Masa Lalu Tertinggal
Tuesday, January 31st, 2006“…and the rain begins to falling down on me….”
Kenapa aku nyetel lagu ini? Huuh….sore-sore, ujan, dingin, laper, mau ngapain yang enak? Kayanya buku “100 peristiwa yang mengubah sejarah dunia” itu udah yang ke-47 kalinya aku baca. Sampe lecek bin kumal gitu. Ah, mending aku buka internet aja mumpung bo-nyok lagi pergi (mulai tumbuh tanduk nih). Dengan cepat aku menyambar kartu internet chip bokap di atas meja kerjanya, dan dalam sekejap aku mulai surfing2 di internet. Situs demi situs terbuka hingga akhirnya aku bosan. Buka situs apalagi ya? Suddenly hatiku tergerak ingin mampir ke blog seorang teman lama (well, dunno sih dia masih nganggep aku temen apa nggak). Ga ada yang berubah. Gaya bahasanya, templatenya dan postingannya. Terlihat postingan terakhir darinya hanya pada awal Desember lalu. Iseng2 aku membaca semua postingannya. Hihihihi…ni anak kaga berubah dikit juga. Tiba-tiba tertumbuk mataku pada salah satu postingannya. Aku seperti tersadar. Ya aku pernah mengecewakannya…
Satu tahun yang lalu sewaktu aku ikut keluargaku ke negara ini aku pernah berjanji pada anak bernama Nia untuk segera menyelesaikan kuliahku dan kembali bersamanya.
“Kamu akan segera pulang?” katanya saat itu
“Aku akan berusaha sekuatnya.” jawabku
“Yah, berusaha itu kadarnya gimana?”
“Ya usahalah..pokoknya usaha. Hidup usaha!”
dia tersenyum “iya deh…tapi sms an jangan sampe putus ya…”
“Moga2 nggak deh. Tapi kalo lagi bokek ga janji yaa…”
“Tuuuhh…kan…” katanya ngambek sambil berpura2 mau melempar sekop kepadaku (buseeett..!!!)
Tapi sayangnya kemesraan itu hanya sebatas kata. Aku bingung bagaimana mengatakannya. Kesempatanku untuk pulang nyaris nol. Sekali lagi NOL. Bahkan ada kemungkinan aku akan terbang lebih jauh lagi. Wah….apa Indonesia-Rusia itu kurang jauh?
Nyatanya memang aku berada saat ini lebih jauh lagi. Minggu kemaren aku ikut pindah Ayah ke Stamford University of London. Makin susah saja aku bertemu dirinya. Dan aku memutuskan sesuatu…aku akan membenci untuk mencintainya. Biarlah dia membenciku….jadi kuganti nomor hape ku. Kurahasiakan kepindahanku dari siapapun. Dan aku benar2 menghilang….Yah mungkin aku memang manusia bodoh. Aku hanyalah manusia biasa. Tapi aku juga seorang arjuna yang ingin melihat sang mahadewi tersenyum bahagia. Jadi kurelakan dirinya membenciku.
Waduh…kok aku jadi ngelamun ya? Seketika aku tersentak. Hape Philips-ku bergetar di saku celana. Aduuh…enaaakk (halah…!!). Kulihat, ternyata sms dari salah seorang sahabatku.
=============
+628136722xxxx
28 Jan 06 19:06
=============
Rei,lu qo g ngbrin kl lu k london?
Smbng lu y.Gw blngin KPK lu.
btw gw kmrn ngrm sst k aprtmen
lu.gw dksih almt ma bkp lu.
eh,kl lu plg ttip oleh2 asinan london
yak.
Hihihihi….ini pasti si Feby. Aku udah tau dari gaya bahasanya. Apa yang dikirim buat aku ya? Baju, surat ato malah terasi? Si Feby kan rada2 eror anaknya. Klo dia ngirimnya kemarin, kayanya minggu depan deh nyampenya. Ato dia pake FedEx ya? Kalo FedEx sih sampenya cepet. Bisa2 hari ini udah sampe. Tapi ga tau ah.
“Ting nong nung neng gung……” Intercom pintu berbunyi nyaring (bel yang aneh). Siapa sore-sore gini dateng? Ujan lagi. Dengan sedikit males-malesan aku membuka pintu kamar dan menyeret langkahku ke pintu depan. Sambil memencet tombol ’speak’ aku menjawab
“Yeah, apartement number 207, who is it?” tak lama terdengar balasan dari si empunya gedung,
“Oh, Rei, is that you? You get special delivery here.” Haah…special delivery?
“From who, sir?” jawabku
“It,s from your friend in Indonesia.” Welah…jangan-jangan kirimannya si Feby udah nyampe.
“Would you mind bring it here, sir?” Pintaku.
“Right away, son.” Jawab si bapak dengan semangat.
Aku mulai deg-deg an. Apa ya yang dikirim Feby
“Knock…knock….” (Artinya tok..tok…) Terdengar pintu diketok. Aku langsung melompat ke arah pintu. “Thank You, Si….” Kata-kataku terhenti. “Nia……” Desisku tak percaya penglihatanku. Aku mencubit tanganku untuk memastikan ku tidak bermimpi. Sakit…aku tidak bermimpi. Dia betul-betul di depanku. 5 detik aku terdiam.
“Kenapa Rei, ga suka aku dateng ya? Kok diem aja?” Ujar Nia singkat membuyarkan lamunanku.
“Eh…ah….nggak kok. Ma…masuk dulu Nia….” Jawabku tergagap, belum mampu menguasai keterkejutanku. Nia melangkah masuk apartementku.
“Ditungguin balik, malah pergi lebih jauh.” ucapan datar dari Nia yang sedang membuka jaket tebalnya terdengar seperti letusan Shot Gun tepat di telingaku. Aku makin tak kuasa menahan perasaanku. Dengan cepat aku meraih bahu Nia dan memeluknya. Air mataku tak mampu kubendung.
“Nia……Aku…aku…..aku rindu…” Bisikku sambil merengkuhnya makin erat. Kubiarkan air mataku membasahi pundaknya. Kurasakan tubuhnya berguncang pelan.
“Aku juga, Rei….” Desisnya pelan di sela-sela isakannya.
“Maafkan aku Nia….” Ucapku lagi. Dadaku terasa semakin sesak. Nia mengangguk pelan.
10 menit aku tidak melepaskan pelukanku. Sampai akhirnya…
“Wayoo….mau sampai kapan kalian pelukan gitu, ha?” Ternyata Ayah Ibuku udah datang. Aku melepaskan pelukanku dari Nia dan menyeka air mataku. Aku tersenyum malu, tapi karena aku lagi menahan tangis, maka efeknya mukaku jadi kelihatan lucu. Nia yang melihatku langsung aja ngakak. Begitu juga ayah ibuku. aku mau tak mau ikut ngakak. Lalu ayah dan ibu masuk ke ruang dalam.
“Ke beranda aja yuk.” Ajakku pada Nia. Dia mengangguk. Aku menggandeng tangannya.
Di beranda…
“Maafkan aku Nia…aku bukan bermaksud mengecewakanmu. Aku hanya tak mau kau menuduhku ingkar janji.”
“Nyatanya kau memang sudah ingkar janji.”
“Aku melakukan ini demi dirimu, Nia.”
“Ah, aku ga peduli. Ingkar ya ingkar.” Nia memang keras hati. Aku mengalah.
“Ya udah, sekarang aku harus gimana untuk nebus salahku?”
“Bener….Mau ngelakuin apa aja?” Katanya tersenyum nakal. Waduh…feelingku mulai terasa ga enak nih.
“Asal jangan yang macem-macem aja.” Jawabku cepat. Nia tertawa pelan. Barisan gigi putihnya membuatnya tambah cantik.
“Nggak kok. Kamu harus jagain aku.” Aku terperanjat.
“Maksudnya…?”
“Iya…jagain aku disini, karena mulai besok aku akan satu kampus denganmu.” Jawabnya sambil tersenyum.
“Jadi…..” Aku tak kuasa melanjutkan ucapanku. Nia mengangguk. Tanpa sadar aku melompat kegirangan, dan memeluk Nia dengan keras.
“Rei…Rei….kalo kamu…peluk….keras-keras…kaya gini…bisa-bisa sebelum…masuk….aku dah koit keabisan napas….deh…” Jawab Nia terputus-putus.
“Oh, iya maaf…” Jawabku sambil melepaskan pelukanku. Lalu kami berdua tertawa. Aku berdiri dan bersandar pada pagar. Lalu dengan sekuat tenaga aku berteriak
“I LOVE RAIN…….!!!!!!!!!”
“Rei…!” Nia terkejut dan menarikku. Kami kembali tertawa. dan mata kami berpandangan.
“Aku sayang kamu, Nia.”
“Aku juga sayang kamu, Rei.”
Lalu seolah ada magnet yang melekat di wajah kami….sehingga membuatnya mendekat. Semakin dekat….dan…..
“Rei…!!!! Kamu make chip Internet Ayah ya…???” Knapa ga dimatiin dulu…????” Abis nih pulsanya…!!!”
Aku tersentak. Nia ikut terkejut. Oh, iya. Aku lupa mematikan koneksi internet tadi. Aku menepuk keningku. Aduuuuhh…..
“….with my every breathe I call you, I will find the way to save my soul…”